Riccardi Andrea: di web

Riccardi Andrea: di jaringan sosial

Riccardi Andrea: tekan ulasan

change language
anda berada di: home - news newsletterlink

Support the Community

  
28 September 2017

Pidato Anders Wejryd (Co-President of the World Council of Churches)

PANEL 16: Kristen dan Perdamaian

 
versi cetak

September 11, 2017

Agama itu berbahaya dan sekaligus indah. Agama bisa memberikan dampak yang baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Ini mungkin tidak memiliki dampak yang besar karena agama dilihat dari sudut pandang manusia. Simul iustus et peccator seperti yang Luttheran kemukakan. Pada saat yang sama (atau pembenaran) dan tetap berdosa. Agama dapat memberikan kekuatan, khususnya ketika kita menggunakan takdir yang ada sebagai ancaman, tetapi juga ketika kita dipanggil untuk menghargai tradisi yang ada. Kita tidak pernah akan keluaar dari dosa itu sendiri. Sepanjang sejarah, ketika seorang dan gereja menyatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam hal itu, mereka merasa menjadi yang paling benar dan yang terburuknya mereka ikut andil dalam kekejaman itu. Agama, yang tidak mempertimbangkan apa yang dilakukannya terhadap kehidupan orang lain, baik dekat maupun jauh, adalah yang paling egois. Agama, yang tidak menerima kritik sebagai perubahan diri adalah agama yang munafik.
 
Melalui perjanjian baru kita dengan jelas telah melihat cara yang berbeda untuk berhubungan dengan kekuatan duniawi, melalui Yesus, tidak hanya dengan masalah pembayaran pajak, bahkan penerimaan Paulus yang menjadi kepercayaan Kekaisaran Romawi dan akhirnya bertobat terhadapnya melalui Wahyu. Setelah Constantine dan Theodosius telah mengubah situasi yang ada. Sejarah gereja-gereja yang menjadi bagian dari politik, kurang lebih menjadi tradisi super-nasional dalam Romawi Barat, yang bersifat Kaisar-kepausan dalam tradisi timur. Dengan Reformasi Gereja, terutama di zaman Lutheran dan mungkin juga dalam tradisi Anglikan, dalam hubungan dekat mereka dengan raja-raja dan kerajaan-kerajaan di dunia ini, karena mereka dianggap menegakan perintah Allah di dunia. Gereja-gereja mungkin jarang menawarkan perlawanan yang kuat dengan perang. Semuanya berubah ketika masa pemerintahan Constantine, ketika merasa diperlukan kekuatan dan kekayaan untuk kelangsungan hidup gereja dan pesan ini semakin kuat daripada komitmen terhadap agama itu sendiri dan Imitatio Christi. Kami menyadari dilemma yang terjadi saat itu!

 
Jika melihat di Eropa ada tantangan yang sangat besar pada gerakan pietistic ke gereja-gereja nasional terutama di Eropa Utara. Dapat dikatakan pada abad ke-17 tentara Swedia sangat bangga ketika bergerak ke Selatan dan Timur atas nama Raja Swedia dan atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, sama seperti tantara bangsa-bangsa lain yang ke arah yang berbeda. Beberapa dekade setelah mereka kembali sebagai pecundang, sobek dan lusuh, menyanyikan lagu-lagu tentang pertumpahan darah Yesus dan hanya beberapa yang berbakti. Agama hendaknya menjadi masalah pribadi, seperti juga agenda dan tujuan pencerahan sekuler. Dan-Agama lagi-lagi akan menjadi alat untuk melakukan perlawanan.
Namun, continental pietisme abad ke-17 ini telah berakar, misalnya sampai wabah besar yang terjadi di abad ke-14 dan pada abad ke-15 dan ketika abad ke-16 terjadilah gerakan petani dan perdamaian. Di sini kita melihat bahwa masyarakat sipil pada masa awal telah melakukan hal ini sebelum konsep tentang perdamaian ini ditemukan. Seperti Lutheran yang melihat bahwa ini penting tapi sekaligus menyakitkan untuk meninjau kembali bentrokan yang terjadi pada sejarah gereja yang damai, Mennonites, dan sebagai Lutheran di Jerman pada abad ke-16. Dengan Mennonites kita bertemu dengan orang-orang Kristen yang memiliki komitmen untuk melawan kekerasan, ketidakadilan, dan perang, yang menjadi target mereka adalah gereja-gereja, raja-raja atau yang memiliki kekuatan, saling membenci lawan-lawan mereka-dan orang-orang Kristen saling membenci satu sama lain, mengutuk dan membunuh pejuang perdamaian… Ini adalah kekerasan yang sangat mematikan dalam nama Tuhan.
Kita, sebagai gereja dan kristiani, pasti memiliki sejarah yang beragam.

Begitu banyak inisiatif bagus yang telah dilakukan oleh gereja-gereja dan orang-orang kristiani selama bertahun-tahun. Mereka telah membangkitkan antusiasime dan membuat sesuatu nyata yang berbeda. Gereja telah menunjukan bahwa ketidakadilan dan potensi dari kekuatan itu akan mengancam perdamaian. Gereja telah membuat sebuah perbedaan sikap yang mengubah sudut pandang politik dan prioritas orang-orang. Sekolah-sekolah telah dibangun, dasar nilai telah digarisbawahi, perubahan secara sosial telah terjadi, Hak-hak Azazi Manusia menjadi terlihat dan ditempa, perlucutan senjata dan control terhadap ekspor senjata telah diperkuat. Semua ini telah selesai, selalu diupayakan dan harus terus terjadi. Tapi ketika perang pecah atau ketika terjadi agresi-agresi yang menuntut untuk dipenuhi, bagaimana dengan gereja, biasanya tidak banyak artinya untuk perdamaian. Ingatlah, ketika masa perang dunia I. Dan ketika Presiden Amerika Wilson dengan prinsip-prinsip kekristenan dan kemanusiawian yang sangat baik untuk perdamaian setelah perang dunia I. Pengrusakan dan agresi terlalu kuat dan demokrasi bukan penghalang yang sepadan untuk hal itu. “Oh tidak, Saatnya kita harus melawan”

Jadi menurut pandangan saya jika usaha orang-orang Kristiani untuk menciptakan perdamaian selalu lebih efektif daripada titik temu mereka. Saat permainan kekuatan sudah dimulai sepertinya susah berhenti hanya dengan kekuatan dan kelelahan. Dan para pecundang akan melawan kembali jika kekuatan mereka kembali.

RCC, WCC, AACC, Agama untuk Perdamaian, Sant’Egidio dan yang lainnya telah memainkan peran yang penting sebagai mediator pada masa-masa perang – namun saya piker gereja dan umat kristiani selalu lebih berhasil untuk menjadi mediator sebelum perang pecah dan situasi pasca-perang – kecuali beberapa rekonsiliasi yang bagus, misalnya di Afrika Selatan. Menjadi actor untuk Hak Asasi Manusia yang memiliki perspektif yang panjang dan prinsip yang solid pasti selalu membuat perubahan, terutama jika kita mampu mengangkat dan membuat nilai-nilai hidup kita terlihat bahwa kita benar-benar percaya pada-Nya tapi kadang kita lupa tentang hal ini atau sering tidak mengungkapkannya.
Jika kita bisa menjadi actor yang memegang keadilan dan kedamaian Bersama, kita bisa lebih berhasil daripda kita hanya bertindak terhadap perspektif damai yang terbatas atau perspektif keadilan dengan orang-orang yang tinggal di dalam daging dan darah dan hal ini sangat mengagumkan pencipta. Pada saat kita, seperti gereja Bersama, dapat menjaga hal-hal ini dan dapat bertahan untuk hal-hal serupa secara local, nasional bahkan internasional, maka kita dapat membuat perubahan. Pada hari-hari ini kita harus mengangkat inisiatif UN untuk mengumumkan bahwa senjata nuklir illegal dan mengharapkan tanggung jawab khusus atas inisiatif tersebut dari semua gereja di negara-negara yang memiliki senjata nuklir.

  1. Keadilan dan perdamaian, yang merupakan Golden Rules, dibangun atas akibat perang
  2. Perspektif sejarah yang panjang, yang berbasis Golden Rules, terbentang tanpa waktu, sejarah dan masa depan
  3. Perspektif Internasional, yang berbasis Golden Rules, terbentang dalam geografi
  4. Dan Golden Rules yang berdasarkan pada pengetahuan bahwa kita hanya bisa mencintai karena Tuhan yang mencintai kita lebih dulu dan yang membiarkan matahari tetap menyinari baik untuk yang jahat dan baik dan atas orang-orang yang mencintai Tuhan dan membenci-Nya.

Perdamaian adalah jalan menuju kedamaian. Kita dipanggil untuk berani melihat dan mengungkapkan bagaimana perdamaian terancam dan mengingat dan mengekspresikan bagaimana bencana yang terjadi setelah perang.


 JUGA MEMBACA
• BERITA
12 November 2017
INDONESIA

Kunjungan Marco Impagliazzo ke Sekolah damai dan Mensa (kantin gratis) untuk orang miskin Sant’Egidio di Jakarta

IT | ES | DE | FR | PT | CA | RU | ID
30 Oktober 2017

Orang Muda & Promosi Perdamaian: Dialog Lintas Iman-Budaya dan Doa Bagi Perdamaian di Yogyakarta

27 Oktober 2017

Selamat Datang, #sudahseribu! Video kedatangan rombongan baru #koridorkemanusiaan

IT | ES | DE | FR | CA | RU | ID
27 Oktober 2017

27 Oktober: Semangat Assisi sudah berusia 31 tahun. Pertemuan bersejarah agama-agama berbeda untuk Perdamaian tahun 1986

IT | ES | DE | FR | RU | ID
23 Oktober 2017
BEIRA, MOZAMBIK

Memberi Makan Para Lansia di Mozambik: Membagikan bahan makanan kepada para lansia di Mozambik

IT | ES | DE | FR | PT | RU | ID
13 Oktober 2017

Hukuman mati adalah suatu tindakan tidak manusiawi yang merendahkan martabat manusia. Dan sangat bertentangan dengan Injil

IT | DE | FR | PT | ID
berita semua
• PRINT
16 November 2017
oe24

"Möchte in keiner homogenen Gesellschaft leben"

15 November 2017
RP ONLINE

Enkel des Mordopfers setzt auf Vergebung

7 November 2017
Tagespost

Die Peripherie als Zielort der Kirche

15 Oktober 2017
Herder Korrespondenz

Sant'Egidio: Auf der Suche nach der Gemeinsamkeit

9 Oktober 2017
Domradio.de

Friede, Freude, Mittagessen

9 Oktober 2017
DIE WELT

Papst informiert sich bei Steinmeier über Bundestagswahl

semua rilis pers
• ACARA
1 Januari 2015

Peace in all Lands 2015

26 April 2012 | SARAJEVO, BOSNIA DAN HERZEGOVINA

Pertemuan Damai Dunia, Sarajevo 9-11 September 2012

3 Juli 2011 | INDONESIA

"Aku Cinta Damai" Pesta Negeri Pelangi. Panti Asuhan Desa Putera, Jakarta

24 Juni 2010

Mengenang William Alfredo Quijano Zetino yang mendapatkan penghargaan "Colombe d'Oro 2010". William adalah seorang anggota muda dari Komunitas Sant'Egidio di San Salvador yang dibunuh karena karyanya bagi anak-anak di Sekolah Damai.

16 September 2009

Milan - Pesta Buka Puasa Bersama oleh Komunitas Sant'Egidio: bersama-sama dengan komunitas muslim, teman-teman dan perwakilan dari berbagai agama

13 September 2009

Antwerpen (Belgia): Prosesi penyalaan obor untuk mengenang para korban deportasi selama pendudukan nazi.

Semua pertemuan doa untuk damai
• ADA HUKUMAN MATI
10 Oktober 2017

On 15th World Day Against the Death Penalty let us visit the poorest convicts in Africa

7 Oktober 2015
AMERIKA SERIKAT

The World Coalition Against the Death Penalty - XIII world day against the death penalty

5 Oktober 2015
EFE

Fallece un preso japonés tras pasar 43 años en el corredor de la muerte

24 September 2015

Pope Francis calls on Congress to end the death penalty. "Every life is sacred", he said

12 Maret 2015
Associated Press

Death penalty: a look at how some US states handle execution drug shortage

12 Maret 2015
AFP

Arabie: trois hommes dont un Saoudien exécutés pour trafic de drogue

9 Maret 2015
AFP

Peine de mort en Indonésie: la justice va étudier un appel des deux trafiquants australiens

9 Maret 2015
AFP

Le Pakistan repousse de facto l'exécution du meurtrier d'un critique de la loi sur le blasphème

9 Maret 2015
Reuters

Australia to restate opposition to death penalty as executions loom in Indonesia

28 Februari 2015
AMERIKA SERIKAT

13 Ways Of Looking At The Death Penalty

15 Februari 2015

Archbishop Chaput applauds Penn. governor for halt to death penalty

11 Desember 2014
MADAGASKAR

C’est désormais officiel: Madagascar vient d’abolir la peine de mort!

pergi ke tidak ada hukuman mati
• DOKUMEN
Daniela Pompei

Aram I

Crescenzio Sepe

"Napoli, kota bagi semua orang, Napoli kota bagi dunia": sebuah barisan untuk mengatakan Tidak bagi Rasisme

semua dokumen

VIDEO FOTO
7:06
Makan Siang Natal bersama Komunitas Sant'Egidio
Christmas Lunch 2010 in Jakarta (Indonesia)
9:45
Sebuah video baru kunjungan Paus Benedictus XVI ke mensa Komunitas Sant'Egidio di Roma pada tanggal 27 Desember 2009

51 kunjungan

58 kunjungan

64 kunjungan

61 kunjungan

66 kunjungan
semua media terkait