Riccardi Andrea: di web

Riccardi Andrea: di jaringan sosial

Riccardi Andrea: tekan ulasan

change language
anda berada di: home - news newsletterlink

Support the Community

  
3 April 2012 | SARAJEVO, BOSNIA DAN HERZEGOVINA

Konferensi Damai Internasional di kota Martir Sarajevo, 9-11 September 2012

Dua puluh tahun setelah tragedi perang Bosnia dan Herzegovina

 
versi cetak

Komunitas sant'Egidio dan Keuskupan Agung Vrhbosna-Sarajevo bekerja sama erat dengan Gereja Ortodoks Serbia dan Komunitas Muslim dan Yahudi Bosnia dan Herzegovina mendorong acara penting dialog agama dan politik sejak perang.

Ratusan pemimpin agama dari semua keyakinan, dari Balkan dan sisanya dari seluruh dunia, juga kekuatan sipil dan budaya akan berkumpul di Sarajevo dari tanggal 9 sampai 11 September atas undangan Komunitas Sant'Egidio dan Kardinal Vinko Puljic untuk membahas isu-isu penting mengenai dunia dan sejarah modern saat ini.

Acara tersebut diumumkan sebagai acara peringatan pengepungan kota Sarajevo keduapuluh .

Prakarsa ini secara penuh didukung oleh negara Bosnia Herzegovina dan para pejabat pemerintahan Bosnia dan Herzegovina dan akan ditandai oleh partisipasi pemimpin agama-agama besar juga pemimpin negara dan tokoh-tokoh politik dan budaya internasional.
Acara tersebut masuk dalam wilayah pertemuan dialog antaragama- mengikuti pertemuan ke-25 di Munich- yang dipromosikan oleh Komunitas Sant'Egidio dengan mengusung semangat Asisi, hari bersejarah Doa Damai dipromosikan oleh Beato Yohanes Paulus II tahun 1986.

Pertemuan di Sarajevo – tempat penderitaan dan harapan, sebuah masyarakat yang saling berdampingan- bertujuan untuk menekankan budaya hidup bersama sebagai nilai Eropa dan sebuah tawaran Eropa kepada dunia.

Program: Majelis Umum di hari Minggu sore tanggal 9 September terdiri atas tiga puluh panel dengan isu-isu terbaru berkenaan dengan ekumenis dan dialog antaragama dan saling berdampingan dan pencarian damai di masyarakat modern. Upacara penutup di hari Kamis Malam tanggal 11 September di jantung kota tua tempat Seruan Damai Gabungan akan diumumkan dan ditandatangani.

Hari Kamis 26 April pukul 11.00 pagi, sebuah konferensi pers yang menyajikan acara tersebut akan diadakan di aula seminari di Sarajevo tempat Yohanes Paulus II disambut selama kunjungan bersejarah tahun 1997.

Media internasional memerlukan akreditasi untuk meliput. Komunitas Sant'Egidio juga akan berada di sana untuk persiapan dan datang pada saat acara. (Piazza di S.Egidio 3/a – 00153 Roma - Tel 39.06585661  -  Fax 39.065883625  – [email protected]).

 

Sarajevo, dua puluh tahun kemudian ...

"Hari ini khususnya tanggal 5 April 2012-Kamis Putih- menandai peringatan keduapuluh tragedi perang Bosnia dan Herzegovina dan pengepungan dramatik kota Sarajevo.

Pengepungan tersebut merupakan pengepungan terpanjang di abad keduapuluh dari April 1992 sampai Februari 1996. Empat tahun penuh kekerasan, penderitaan, bom setiap hari... dan bunyi-bunyi tertentu yang menjadi biasa dalam pendengaran saya, begitu hebat sehingga saat ini saya terpaksa mengenakan alat bantu untuk memulihkan hilangnya pendengaran yang diakibatkan peristiwa tersebut.

Dua puluh tahun masih terlalu singkat untuk menceritakan apa yang terjadi di Sarajevo yang selalu menjadi sebuah kota saling berdampingan yang berlebihan antara Kristen, Yahudi dan Muslim. Tetapi Sarajevo juga merupakan sebuah kota penderitaan dan konflik. Dalam sejarah, Sarajevo termasuk dalam awal dan akhir dari peperangan di abad ke-20. Sesungguhnya di Sarajevolah perang dunia pertama berasal. Sarajevo merupakan panggung konflik tragis terakhir di tahun 1990an. Sarajevo merupakan kota penderitaan dan harapan. Dalam kunjungan bersejarah di tahun 1997, Paus Yohanes Paulus II menyebut Sarajevo sebagai "Yerusalem Eropa"....

Tapi apa yang terjadi di Sarajevo? Sebuah kekerasan dan perang tanpa perasaan -seperti setiap perang- yang mengajarkan banyak orang percaya bahwa Katolik, Ortodoks, Muslim dan Yahudi tidak bisa hidup bersama. Sebuah perbandingan antara Kroasia, Serbia, Bosnia. Sebuah kenyataan orang-orang berbeda telah hidup bersama selama berabad-abad tiba-tiba menjadi terpecah, saling berhadapan satu sama lain.
Sebagai uskup kota ini, saya ingin tetap tinggal. Saya adalah seorang pastor pada saat pendudukan Sarajevo. Saya tidak mengungsi. Saya tinggal bersama dengan orang-orang semua selama empat tahun pengepungan, berbagi hari demi hari penderitaan dan harapan rapuh tentang masa depan. Tapi apakah ada masa depan? Masa depan model apakah bagi 11.000 orang yang terbunuh oleh bom, ditembak secara acak sepanjang hari dari pagi sampai malam, dari kanon-kanon yang ditempatkan di gunung-gunung sekeliling kota. Dua ribu anak-anak terbunuh, Yahudi, Kristen, Muslim yang namanya tercatat di 5 pilar di lapangan utama kota. Anak-anak Sarajevo. Dan banyak anak lainnya yang terkena tumor yang disebabkan oleh uranium kadar rendah yang diperkaya (LEU) yang digunakan dalam bom... Namun demikian, ada sebuah masa depan bagi setiap orang... Kita orang-orang Kristen, kita mencintai kehidupan dan kita percaya bahwa masa depan selalu ada dan perang bukanlah merupakan kata terakhir.

Begitu banyak kenangan pribadi dari mereka yang dicintai, tahun-tahun tanpa akhir ... Saya ingin menjadi seorang uskup bagi tiap-tiap orang, Katolik, Ortodoks, Yahudi, Muslim dan bahkan bagi mereka yang tak beriman. Saya menyadari bahwa selama kekerasan perang, mungkin lebih penting dan jelas bahwa sepanjang waktu, ya, sepanjang waktu, seorang uskup dapat dipanggil uskup setiap orang.

Saya juga ingin berbicara mengenai betapa pentingnya persahabatan dan kontak dengan yang lainnya ketika kita sendiri, dikelilingi oleh kejahatan, diancam setiap hari di bawah ancaman seperti di Sarajevo. Pikiran saya berpaling kepada persahabatan dan penyatuan yang dalam dengan Yohanes Paulus II. Pikiran saya berpaling kepada pertemuan dengan Beliau di bulan Januari 1993 untuk sebuah doa yang diadakan di Asisi bagi daerah Balkan. Kami masih di bawah kepungan.

Dua puluh tahu dari tragedi perang dan pengepungan Sarajevo, dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan saya ingin mengumumkan bahwa bersama dengan Komunitas Sant'Egidio, kami sedang mempersiapkan pertemuan besar internasional bagi damai di Sarajevo. Acara tersebut akan berlangsung dari 9-11 September yang akan mengumpulkan para perwakilan dari gereja-gereja Kristiani dan agama besar lainnya untuk bersama-sama mengatakan TIDAK bagi perang, bagi kekerasan, bagi perpecahan. Untuk mengatakan bahwa masa depan ada bagi setiap orang dan masa depan ada hanya dengan hidup bersama. Tidak ada masa depan tanpa hidup berdampingan bagi Sarajevo, bagi Bosnia dan Herzegovina, bagi Eropa dan bagi dunia.
Saya sungguh berharap pesan perdamaian besar bisa muncul dari Sarajevo dan menyebar ke seluruh negara dan ke semua penduduk di seluruh dunia. Sarajevo merupakan kota yang terpecah oleh peperangan dan penderitaan dapat menjadi kota mimpi bagi perdamaian Eropa dan dunia. Damai, saling berdampingan dan kesetaraan. Saya mengundang anda sekalian bersama kami di Sarajevo bulan September depan.

5 April 2012
Sarajevo, 5. travnja 2012

Yang Mualia Kardinal Vinko Pulic
Uskup Agung Vrhbosna-Sarajevo


 JUGA MEMBACA
• BERITA
5 Oktober 2016

5 Oktober, Hari Guru Sedunia: Semua ke Sekolah…..Damai!

IT | EN | ES | DE | PT | RU | ID | HU
20 September 2016
ASSISI, ITALIA

Pidato Paus Fransiskus pada Acara Penutupan "Haus akan Damai" di Assisi

IT | EN | ES | DE | FR | PT | CA | ID
17 September 2016

Assisi 2016, hadiah dan isyarat yang ditakdirkan Tuhan. Refleksi dari Andrea Riccardi akan “Masa Datang”

IT | EN | ES | DE | ID
1 Juli 2016

Impian Eropa dari ayah dan anak yang mempromosikan masyarakat hidup berdampingan dan damai

IT | PT | ID
29 Maret 2016
ROMA, ITALIA

Doa bagi para korban dan untuk perdamaian di Lahore, Pakistan

IT | EN | DE | PT | ID
25 November 2015
INDONESIA

Kunjungan Andrea Riccardi di Indonesia - Galeri foto

EN | ES | DE | FR | PT | CA | NL | RU | ID | SQ | UK
berita semua
• PRINT
8 Desember 2016
Vatican Insider

Libia, Sant’Egidio: prima riconciliazione tra Misurata e Zintan

3 Desember 2016
Radio Vaticana

Pace in Colombia: ex guerriglieri iniziano il disarmo

28 November 2016
FarodiRoma

La preghiera per la pace da Wojtyla a Bergoglio in un libro di Paolo Fucili

23 November 2016
Il Fatto Quotidiano

Non solo faide, al Sud si parla di pace

22 November 2016
Avvenire

Sant'Egidio. «Quella in Centrafrica non è una guerra di religione»

22 November 2016
L'huffington Post

Se Bangui diventa il centro del mondo con il Cardinale, l'Imam e il Pastore

semua rilis pers
• ACARA
23 November 2016

Migranti: il Premio Galileo 2000 alla Comunità di Sant'Egidio

16 November 2016 | CERGY, PERANCIS

La globalizzazione e l'arte della pace: il ruolo di Sant'Egidio, con Andrea Riccardi

Semua pertemuan doa untuk damai
• DOKUMEN

Libya: The humanitarian agreement for the region of Fezzan, signed at Sant'Egidio on June 16th 2016 (Arabic text)

semua dokumen
• BUKU-BUKU

Elogio dei poveri





Francesco Mondadori

Il martirio degli armeni





La Scuola
semua buku

Per Natale, regala il Natale! Aiutaci a preparare un vero pranzo in famiglia per i nostri amici più poveri